![]() |
| Fhoto: Lestarikan Budaya, Ratusan Layang-layang Danguang Raksasa Hiasi Langit Padang Pariaman. (Red) |
DURI - Langit Ulak'an Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Minggu siang itu tak seperti biasanya. Angin laut berhembus pelan, seolah memberi ruang bagi puluhan, bahkan ratusan layang-layang Danguang untuk menari bebas di angkasa. Dari kejauhan, warna-warni kain raksasa tampak bergantian naik, beradu angin, dan memancing decak kagum ribuan pasang mata.
Di tanah lapang itulah, Tim Pesona Muda menggelar Mabar (Main Bareng) Layang-layang Danguang Sumbar–Riau, sebuah pertemuan besar para pencinta permainan tradisional yang kini mulai jarang dijumpai.
Peserta datang dari berbagai daerah. Tak sedikit yang menempuh perjalanan jauh dari Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, hanya demi satu tujuan: melepas rindu pada Danguang layang-layang khas berukuran besar yang membutuhkan kesabaran, kekompakan, dan kekuatan tim.
Ukuran Danguang yang diterbangkan pun bukan main-main. Ada yang membentang beberapa meter, ada pula yang mencapai sekitar 9 meter, menjulang gagah di udara. Untuk Danguang berkapasitas sangat besar, proses menerbangkannya tak bisa dilakukan sendirian. Hingga 10 orang harus bekerja bersama menarik tali, mengatur arah, dan membaca angin agar layang-layang raksasa itu bisa naik sempurna.

Fhoto: Lestarikan Budaya, Ratusan Layang-layang Danguang Raksasa Hiasi Langit Padang Pariaman. (Red)
Sorak sorai pun pecah setiap kali satu Danguang berhasil mengudara penuh. Anak-anak berlarian, orang tua duduk bersila sambil menunjuk ke langit, sementara para pehobi saling bertukar cerita tentang benang, rangka, hingga teknik membaca angin.
Ketua komunitas pencinta dan pehobi layang-layang Danguang Pesona Muda, Noval, menyebut kegiatan ini lebih dari sekadar menyalurkan hobi. “Ini bukan hanya soal layang-layang. Ini tentang silaturahmi, kebersamaan, dan menjaga budaya agar tidak hilang,” katanya kepada awak media, Senin (09/02/2026).
Menurutnya, Danguang adalah simbol kerja sama. Tak bisa diterbangkan sendirian, dan tak akan bertahan tanpa kekompakan. “Layang-layang Danguang mengajarkan kita gotong royong. Karena itu kami ingin anak-anak muda ikut terlibat, melihat langsung, dan merasakan sendiri keseruannya,” ujarnya.
Antusiasme peserta yang mencapai ribuan orang menjadi bukti bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat, meski zaman terus berubah. Ulak'an Tapakih pun seketika menjadi ruang pertemuan budaya antara angin, langit, dan manusia yang sama-sama ingin menjaga warisan leluhur.
Di akhir hari, saat matahari mulai condong ke barat dan satu per satu Danguang diturunkan, tersisa harapan besar dari Pesona Muda agar langit Ulak'an, dan langit-langit lain di Nusantara, tak pernah sepi dari tarian layang-layang tradisional.**
(rls/dp)


